| |
Membidik Pasar Daerah
Strategi
yang lebih masuk akal dalam mengembangkan bisnis industri media
cetak saat ini tak lain difokuskan pada penggarapan pasar-pasar
pengiklan. Baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Di tengah
perkembangan ekonomi nasional, kebutuhan berpromosi para pebisnis
mulai dari pengelola pusat perbelanjaan, industri, jasa dan kehausan
informasi para konsumen, tetap perlu diakomodasi oleh para pengelola
media – khususnya majalah. Dengan demikian bila eksposur dan
penetrasi luas pada target yang fokus dan tepat, peluang para pemasang
iklan akan memperoleh eksposur yang juga tepat sasaran dan mendalam
akan tercapai.
Meminjam teori Prof W Chan Kim dan Renee Mouborgne,
dalam bukunya Blue Ocean Strategy, bentuk penyikapan menghindari
wilayah ”Red Ocean” dan membidik kawasan pasar ”Blue
Ocean” tentu merupakan pilihan strategi sangat jitu. Ketimbang
berdesakan, berhimpit, dan kemudian menjadi berdarah-darah bertempur
dengan pesaing yang lebih mapan di segmen umum, lebih baik memasuki
kawasan yang nyaris tanpa kompetitor berarti. Ditarik dalam konstelasi
pasar per-iklanan nasional, cara dan strategi di atas jelas sangat
tepat dan masuk akal.
Ranumnya
pasar di daerah memang telah memalingkan muka banyak pengelola media.
Dengan aneka alasan dan kiat mereka berupaya mengokohkan kehadiran
lewat berbagai gagasan maupun penawaran ke sana. Termasuk penjajakan
kerjasama menopang sarana promosi, penjualan, atau penciptaan produk-produk
periklanan kreatif yang cocok dengan misi pemda maupun komunitas
bisnis di daerah lainnya. “Kita juga mendapatkan gambaran
utuh tentang perkembangan mutakhir rekan-rekan usaha di daerah,“
ungkap Zetta Saraswati, Wakil Pemimpin Usaha yang juga merangkap
sebagai Manajer Iklan Majalah SWA, tatkala usai berkunjung ke kota-kota
di Jawa Tengah dan Jogyakarta.
Zetta beserta rombongan Tim Iklan memang baru saja
menyelesaikan kunjungan silaturrahminya. Mereka antara lain mengunjungi
beberapa universitas, perusahaan-perusahaan swasta maupun BUMN/D.
“Mereka semua sangat antusias menyambut kedatangan kami,”
ujar Niken yang juga bertanggung jawab terhadap pemasaran iklan
Majalah MIX milik SWA Group.
Optimisme Tim Pemasaran Iklan majalah SWA tersebut
tidak terlalu berlebih-lebihan. Di tengah kegamangan banyak pihak
tentang kesulitan mengembangkan pertumbuhan oplag dan pembaca, namun
secara obyektif SWA menemukan justeru hal-hal sebaliknya. Berdasarkan
temuan Ari yang juga ikut serta dalam Tim Iklan diperolah informasi
sesungguhnya mitra-mitra usaha di daerah sangat membutuhkan media
promosi signifikan atau khusus – seperti halnya majalah SWA
yang membidik segmentasi pasar tertentu. Ari dan Amoer antara lain
sempat bertandang serta berbincang-bincang dengan lembaga-lembaga
atau mitra bisnis lain di Semarang atau Yogjakarta, seperti Undip,
Nusantara Sakti, Primagama, Petak Umpet, Simpul Advertising. Beberapa
mitra di kota Solo dan Sragen antara lain: Solo Paragon, Kusuma-mulya
Tower, BPD DIY dan Solo Murni juga dikunjungi oleh Niken dan Zetta.
Mereka, seperti dikatakan di awal, “Siap bermitra dan menjalin
kerjasama dengan Majalah SWA,” kata Ari meyakinkan. ***
< kembali ke index
> < kembali ke edisi >
|