SWA News >> SWA Media Inc. e-Newsletter | home swamediainc.com
 
 
 
Home > Edisi 02-2009 > The Other Side of SWA
 
 

THE OTHER SIDE OF SWA

Ucon alias Moh. Yusron Muchsin, Staf SPOTCOM

Bersamaan dengan ulang tahun SWA ke-24 yang jatuh pada 10 April 2009, bersama ini kami turunkan sekelumit cerita tentang kiprah lain dua orang awak SWA:

“Saya senang dongeng sejak kecil, ketika orang tua (terutama ibu) selalu mendongeng setiap menjelang tidur di rumah kita di Ponorogo-Jatim.” ungkap Yusron yang kerap dipanggil Kak Ucon oleh kerabat kanak-kanaknya.

Ucon yang sehari-hari adalah staf SPOTCOM dengan fasih cerita bagaimana masa kecilnya. “Saya dan adik-adik (saya anak pertama dari empat bersaudara) selalu menagih didongengi,” katanya berbinar. Bagi kita, lanjut Ucon, ”Saat-saat berkesan di masa kecil adalah ketika ibu saya mendongeng di pelataran rumah di waktu bulan purnama dengan beralaskan tikar. Bukan hanya saya, adik-adik pun sampai saat ini masih ingat dongeng apa saja, bagaimana ibu menceritakannya, bagaimana ekspresinya, termasuk bagaimana ibu mendongeng sampai terkantuk-kantuk walau kita tetap melongo memperhatikannya,” paparnya lebih jauh.

Ketika nyantri di Pesantren Gontor 1985-1992 (setingkat SMP-SMU), Ucon yang sempat nongol di acara teve Salam Canda bersama Ebed Kadarusman, mulai menyenangi dunia seni. Saat itu dia sempat membina teater, mengembangkan wayang orang, bermain sulap (bahkan hingga menggergaji orang), menemukan beragam tiru suara (tercatat 75 suara), main pantomime, dan lainnya yang dikemudian hari sangat mendukung dalam mendongeng.
Kini dalam sebulan rata-rata Ucon mendongeng 2-6 kali. Yang paling ramai biasanya bulan Ramadhan, penuh
sekali, karena biasanya selain mendongeng live, juga ngisi acara dongeng di radio (sudah 3 Ramadhan ngisi di RPK/Radio Pelita Kasih).

Beberapakali Ucon mendongeng di beberapa televisi. Terakhir menjadi pendongeng dalam acara Dongeng Keliling di TV One, yang ditayangkan setiap Minggu pukul 07:30-08:00 WIB. Sayang, atas keputusan owner tayangan yang sudah berjalan 12 episode itu ditiadakan kembali, karena sesuai slogannya mereka mengembalikan ke tayangan sport dan news.

Bersama komunitas Dongeng Minggu, sebulan sekali (minggu ke-4 dari pukul 11:00-13:00 WIB) kelompok Ucon mendongeng bergantian di Toko Buku Gramedia lantai 2, Matraman, di depan anak-anak yang memang sudah menjadi penggemar tetap dan mereka yang berbelanja di toko itu. Kegiatan ini selain mengasah keterampilan kita dalam mendongeng dan ajang saling tukar pengalaman, juga menumbuhkan keceriaan anak-anak. “Saya pribadi ingin kembali membudayakan mendongeng di kalangan keluarga, “ kata Ucon.

Bila dalam sekali pelatihan ada 50 peserta, dan mereka benar-benar mendongeng di tempat masing-masing, umpamanya seminggu dua kali di depan 10 anak, berarti dalam seminggu 1000 anak mampu diberi pencerahan lewat ‘pendidikan’ tidak resmi ini (50x10x2). Dalam sebulan 4000 anak yang terhibur melalui dongeng dan mendapat wawasan baru. “Nah, kalau pelatihan sering kita adakan? Insyaallah bila kegiatan ini diridhoi-Nya akan menjadi amal jariah saya,” ucap Ucon mengakhiri dongeng..eh maaf ceritanya. Selamat Ucon dan semoga sukses ya.... ***

H.B. Supiyo, Redaktur Senior SWA

Sosoknya begitu kalem, lembut dan sangat bersahaja. Itulah dia HB Supiyo, redaktur senior yang sarat dan ke-nyang pengalaman di jurnalistik. Papi, begitu teman-teman SWA memanggil beliau, dengan usianya yang lebih dari 70 tahun, kini betul-betul menikmati keseharian hidupnya. “Saya sekarang kerap mengisi waktu bergaul dengan kalangan-kalangan tak beruntung,” ungkap Pak Piyo, panggilan akrabnya di kalangan kerabat dekat. Mereka, menurut
Pak Piyo, begitu banyak tersebar di berbagai tempat. Termasuk di sekitar Tanjung Priok atau Pademangan yang memang telah diakrabinya sejak lama. Upayanya sendiri mendekatkan diri dengan kehidupan orang-orang terpinggir itu sesungguhnya telah berlangsung lama. “Saya sepertinya mendapatkan pengalaman bathin yang begitu dalam dan membekas,” kata Pak Piyo.

Memang, diakuinya, tak semua hal bisa diurusi. “Tapi saya sendiri fokusnya lebih tertarik mengentaskan atau setidak-tidaknya mengatasi bagaimana kesehatan mereka kita bantu,” tutur Pak Piyo. Itu sebabnya, lanjutnya lagi, “Tak jarang saya bersama rekan-rekan lain seperti dokter dan teman yang sama-sama perduli turun ke lapangan.” Itulah ternyata aktifitas lain Pak Supiyo di luar kesibukannya mengasuh rubrik Sela di SWA. Sebuah karya yang sudah banyak diacungi jempol bahkan digandrungi karena kaya akan nilai. Bahkan bukan sedikit pula yang sangat mengagumi figur ini lewat tulisan-tulisan beliau lainnya. Tidak jarang, beberapa nilai hidup yang diajarkan tulisan Pak Piyo dikatakan akhirnya begitu melekat dalam diri pembacanya.

Rekan-rekan SWA, boleh jadi adalah sebuah keberuntungan luar biasa bagi kita dapat mengenal sosok satu ini. Kita tidak hanya bisa mengetahui tulisan-tulisan beliau dari dekat tapi kita pun dapat berinteraksi dan berkesempatan menjadi teman beliau untuk diskusi atau bertegur sapa di kantor. Bahkan ketika kita ngobrol tentang kepeduliannya terhadap kesehatan kaum miskin tadi seakan waktu berbincang tak ingin berakhir. Nampak jelas betapa tiap kata dan kalimat yang selama ini kita baca bukan semata-mata karangan atau dugaan suasana yang dibuat-buat. Sungguh semua itu ternyata adalah sebuah penggambaran yang dalam dan nyata dari hasil pergulatan pengalaman bathin beliau berdekatan dengan realitas sebenarnya.

Tak heran jika dalam sebuah tulisan, seorang rekan pernah menggambarkan betapa hangatnya memang sosok laki-laki ini. Paling sering, katanya dalam tulisan itu, kita di kantor kerap saling sapa, saling lempar senyum dan menanyakan kabar. Praktis diskusi lumayan panjang kita soal rokok dan kesehatan. Tapi Papi – sebutnya ke Pak Piyo – pernah suatu kali menganjurkan dia segera mengalahkan kebiasaan merokoknya. Dia bercerita dia pun dulunya perokok berat. Hingga satu hari, dia merasa merokok tidak sebanding dengan kenikmatan bersama orang-orang yang dikasihinya. Lalu dia membuang kebiasaannya itu demi cintanya pada mereka. “Gile, romantis juga nih Papi ....,” tulisnya puitis.

Yahhh...Pak Piyo memang seakan telah menjadi ikon penting bagi orang-orang di dalam maupun di luar SWA. Kalaupun kita turunkan cerita sekilas kegiatan pak Piyo di luar aktiftas keseharian yang kita pahami selama ini semata-mata hanya untuk sekedar membuka mata kita. “Tidak perlu menunggu umur tua seperti saya untuk belajar memahami secara lebih dalam dan bermakna tentang relatitas kehidupan sebenarnya,” kata Pak Piyo.

Terima kasih Papi, semoga kita bisa mencontoh apa yang telah beliau lakukan dan mampu pula menuangkannya ke dalam tulisan yang begitu runtut, renyah dan mudah buat dipahami oleh semua orang. BRAVO PAPI ***

 

< kembali ke index >

 
 
Copyright © 2009 SWA Media Inc. All rights reserved.
Facebook SWA Twitter SWA