|
Ethno (Media) Planning dan
Tren Adaptasi Pendekatan Marketing
Pendekatan marketing tradisional kian dipertanyakan.
Salah satunya adalah soal mitos bahwa iklan berikut citra adalah
segala-galanya. Begitu pula perihal disparitas media yang menunjukkan
pembedaan antara soal korelasi kepemilikan media (ownership) dan
kualitas dampak eksposure-nya. Lalu juga euporia tayangan terhadap
usia dominan yang dimiliki oleh melalui gaya hidup yang begitu mobile
maupun perilaku hidup kelompok usia muda atau remaja.
Kesemua itu juga sama dengan keyakinan umum bahwa
telah terjadi pula proses pembelian konsumen yang baru dengan melibatkan
aspek psikologis mulai dari hasrat, keyakinan untuk akhirnya sampai
pada proses kepeutusan melakukan pembelian. Belum lagi soal paradok
kontek media, Jakarta centric dan aneka kegiatan-kegiatan bersifat
offline. Berdasarkan pemahaman yang terus berkembang ternyata hal-hal
di atas dianggap tidak mencukupi.
Kini tengah berkembang dan maju apa yang disebut
Ethno (Media) Planning. Sebuah pendekatan yang menekankan tidak
lagi semata-mata menyatakan bahwa bagaimanapun pendekatan tradisional
masih diperlukan, adanya ikatan media lokal yang menguat, terjadinya
perilaku spesifik para konsumen, perbedaan bahasa, kian memerlukan
contact point secara unik atau prioritas pesan yang berbeda saja,
tapi lebih dari itu. Ethno menghendaki upaya secara massif akan
komitmen brand, orientasi kampanye yang lebih lokal dan bersifat
kluster, ancaman dari customer melalui
tindakan yang nyata; harus sempurna, membujuk dan tampak alami;
berbasis budaya dan komunitas; dan berorientasi pada loyalitas berikut
komitmen tinggi.
Begitu pula terkait dengan unsur pembedaannya. Jika
pada awalnya pembedaan dimaksud cuma mencakup soal-soal traditional
contact point, keyakinan local, media local atau pemetaan budaya,
tapi pada Ethno mencakup hal lebih tajam seperti untuk basis ethno
Jawa Timur terdapat isu-isu ethno planning berkaitan dengan ciri
lokal mulai dari sebutan asing, arek, mataraman atau maduroan. Begitu
pula komunitas anak muda Jakarta dengan cirri-ciri khasnya. Pada
keduanya terdapat regular planning yang terkait pada aspek status
sosial-ekonomi berikut psikografisnya. Hal yang sama akan terjadi
pula ketika kita menyimak soal lain , seperti aspek keterlibatan
dan orientasi atau pemetaan etnis lain Cina dengan daerah Jogyakarta.
Dengan demikian ketika kita menggunakan konsep Ethno,
banyak hal baru memang perlu menjadi perhatian kita mulai dari mencermati
soal pencitraan ikatan budaya yang begitu kuat, keterhubungan brand,
pertimbangan kekuatan brand dalam jangka panjang, kecepatan dan
ketepatan respon, relevansi kekuatan brand dan tingkatan kohesi
kehidupan social. Atau, dengan kata lain kita mesti belajar hal
baru yang terkait, seperti pengelolaan media baru, sensitifitas
secara antropologis, dukungan sosial media dan ethno planning itu
sendiri. *
< kembali ke index
>
|