SWA News >> SWA Media Inc. e-Newsletter | home swamediainc.com
 
 
 
Home > Edisi 06-2008 > Ethno (Media) Planning dan Tren Adaptasi Pendekatan Marketing
 
 

Ethno (Media) Planning dan Tren Adaptasi Pendekatan Marketing

Pendekatan marketing tradisional kian dipertanyakan. Salah satunya adalah soal mitos bahwa iklan berikut citra adalah segala-galanya. Begitu pula perihal disparitas media yang menunjukkan pembedaan antara soal korelasi kepemilikan media (ownership) dan kualitas dampak eksposure-nya. Lalu juga euporia tayangan terhadap usia dominan yang dimiliki oleh melalui gaya hidup yang begitu mobile maupun perilaku hidup kelompok usia muda atau remaja.

Kesemua itu juga sama dengan keyakinan umum bahwa telah terjadi pula proses pembelian konsumen yang baru dengan melibatkan aspek psikologis mulai dari hasrat, keyakinan untuk akhirnya sampai pada proses kepeutusan melakukan pembelian. Belum lagi soal paradok kontek media, Jakarta centric dan aneka kegiatan-kegiatan bersifat offline. Berdasarkan pemahaman yang terus berkembang ternyata hal-hal di atas dianggap tidak mencukupi.

Kini tengah berkembang dan maju apa yang disebut Ethno (Media) Planning. Sebuah pendekatan yang menekankan tidak lagi semata-mata menyatakan bahwa bagaimanapun pendekatan tradisional masih diperlukan, adanya ikatan media lokal yang menguat, terjadinya perilaku spesifik para konsumen, perbedaan bahasa, kian memerlukan contact point secara unik atau prioritas pesan yang berbeda saja, tapi lebih dari itu. Ethno menghendaki upaya secara massif akan komitmen brand, orientasi kampanye yang lebih lokal dan bersifat kluster, ancaman dari customer melalui
tindakan yang nyata; harus sempurna, membujuk dan tampak alami; berbasis budaya dan komunitas; dan berorientasi pada loyalitas berikut komitmen tinggi.

Begitu pula terkait dengan unsur pembedaannya. Jika pada awalnya pembedaan dimaksud cuma mencakup soal-soal traditional contact point, keyakinan local, media local atau pemetaan budaya, tapi pada Ethno mencakup hal lebih tajam seperti untuk basis ethno Jawa Timur terdapat isu-isu ethno planning berkaitan dengan ciri lokal mulai dari sebutan asing, arek, mataraman atau maduroan. Begitu pula komunitas anak muda Jakarta dengan cirri-ciri khasnya. Pada keduanya terdapat regular planning yang terkait pada aspek status sosial-ekonomi berikut psikografisnya. Hal yang sama akan terjadi pula ketika kita menyimak soal lain , seperti aspek keterlibatan dan orientasi atau pemetaan etnis lain Cina dengan daerah Jogyakarta.

Dengan demikian ketika kita menggunakan konsep Ethno, banyak hal baru memang perlu menjadi perhatian kita mulai dari mencermati soal pencitraan ikatan budaya yang begitu kuat, keterhubungan brand, pertimbangan kekuatan brand dalam jangka panjang, kecepatan dan ketepatan respon, relevansi kekuatan brand dan tingkatan kohesi kehidupan social. Atau, dengan kata lain kita mesti belajar hal baru yang terkait, seperti pengelolaan media baru, sensitifitas secara antropologis, dukungan sosial media dan ethno planning itu sendiri. *

 

< kembali ke index >

 
 
Copyright © 2008 SWA Media Inc. All rights reserved.