|
Bagian
2 seri tulisan:
“Komunikasi” di Fungsi
Manajemen Strategis yang Gamang! Quo Vadis?
Drs. Elizabeth Goenawan Ananto MM., Ph.D. FIPRA
”Mitos PR harus wanita cantik,
public figure sudah mulai ditinggalkan...”
Untuk itu pelaksanaan program PR yang efektif mempunyai
tahapan berikut: Pertama, Environmental scanning, yaitu mengidentifikasi
pihak pihak terkait dengan adanya rencana keputusan management dengan
memonitor konsekuensi tindakan mereka yang setuju dan tidak setuju
terhadap keputusan yang akan diambil. Dalam tahap ini PR harus melakukan
pemetaan publik yang akan terkait dan mencari informasi seluas mungkin,
misalnya berkomunikasi dengan media, praktisi, akademisi, para pengamat,
misalnya dengan melakukan: riset opini publik, audit komunikasi
sebagai alternatif ’fact finding’.
Kedua, Scenario Building – Dari pengalaman
yang terdahulu, apa yang terjadi, bagaimana kemungkinannya yang
akan datang. Berbagai alternatif tindakan dipelajari dan dengan
resiko yang terkecil dengan mempertimbangkan secara komprehensif,
dari berbagai aspek sebelum keputusan yang terbaik untuk semua pihak,
diambil.
Ketiga, Issue Management - Tahap ini dilakukan dialog
publik (diskusi, seminar, focus group) mengenai isu terkait dengan
konsekuensi positif negatif sehingga terjadi perluasan pemahaman
publik terhadap fenomena atau gejala perubahan yang terjadi. Perubahan
mengundang resistensi dari berbagai pihak, untuk itu perlu dilakukan
dialog, penjelasan dan edukasi.
Keempat, Crisis Communication. Kebanyakan krisis
timbul karena keputusan manajemen. Pencegahan krisis akan jauh lebih
baik daripada penanganan krisis ketika sudah terjadi. Kemampuan
untuk mengatasi krisis tergantung dari kualitas hubungan yang telah
dibina oleh unit PR / management selama ini. Dalam tahap ini, komunikasi
harus dilakukan secara sistemik, bertahap, terbuka, dapat disaksikan
publik yang dan dengan prinsip 4 F – yaitu Factual, Frank,
Friendly and Fair. Apa adanya, dengan jujur, secara bersahabat /
tidak bermusuhan dan seimbang.
Kelima, Reputation Management – Bukan citra
saja yang dikelola (dapat dibungkus dengan kegiatan PR yang wah),
tetapi reputasi (fakta dan opini). Nilai suatu reputasi tergantung
dari kualitas hubungan dengan publik karena pengalaman pribadi,
referensi dan kekuatan ’word of mouth’ serta pemberitaan
media yang begitu cepat dan beragam secara signifikan akan memberikan
pengaruh terhadap naik turunnya reputasi suatu perusahaan / lembaga.
Singkatnya, kontribusi PR kepada strategi managemen
dapat dilihat dari partisipasinya dalam (1) proses pengambilan keputusan,
(2) melakukan segmentasi publik yang terkait, (3) menggunakan komunikasi
sebagai sarana untuk membentuk hubungan yang harmonis, (4) dapat
mempengaruhi prilaku manajemen serta (5) mampu mengukur kualitas
hubungan yang dilakukan.
Dalam 5 tahun terakhir terjadi pergeseran fungsi
komunikasi perusahaan. Hal ini lebih banyak disikapi oleh perusahaan
swasta yang memang sarat dengan persaingan. Pergeseran dari sebutan
fungsi Humas yang mengelola Informasi dan Dokumentasi, Protokoler,
Program, dan Media menjadi Corporate Communications, Public Relations,
Corporate Affairs dengan jabatan setingkat Manager, Senior Manager,
Direktur bahkan Vice President. Perannya sudah lebih luas dan beragam
juga dituntut untuk lebih spesifik seperti Government Relations,
External Affairs, Public Affairs yang juga menghasilkan keputusan
kebijakan komunikasi yang lebih terprogram, terarah dan berkesinambungan.
Program yang dihasilkan dapat berbentuk kegiatan
ad hoc, program sampai kampanye – terutama untuk perusahaan
yang menghasilkan Fast Moving Consumer Goods yang memerlukan perpaduan
antara pemasaran
dan komunikasi yang dikenal dengan istilah Integrated Marketing
Communications – meskipun secara konsep mengkerdilkan fungsi
Komunikasi sebagai alat pemasaran, bukan sebagai fungsi manajemen.
Di tingkat Tehnis, masih terbatas kepada penyampaian
informasi kepada publik (85%), promosi dan publikasi (72%), tugas
keprotokolan dan seremonial (47%) dan melaksanakan tugas yang diperintahkan
oleh pimpinan (46%). Ditingkat Managerial, melakukan environmental
scanning (63%) dan perencanaan komunikasi (74%). Sedangkan
di tingkat Strategis yang paling utama dilakukan adalah mempertahankan
citra dan reputasi (82%), koordinasi internal dan eksternal (77%),
selain daripada mendapatkan dukungan publik (75%), dan kepemimpinan
dan positioning (51%) saja. Data diambil dari Gold Paper PR Indonesia
(Ananto, 2007) yang merupakan studi persepsi mengenai faktor
faktor yang berpengaruh terhadap praktek PR di Indonesia, dengan
1.018 responden dari 5 kota besar: Bandung, Jakarta, Semarang, Jogyakarta
dan Medan. Responden adalah praktisi (60.5%) dan akademia (39.5%),
berpendidikan SLA (35%), Diploma/Sarjana (50%) dan Master/Doktor
(15%).
Program Magister Manajemen Komunikasi Universitas
Trisakti yang berada di Kampus Trisakti Mega Kuningan, secara tegas
menyatakan bahwa komunikasi adalah fungsi manajemen dengan kurikulum
yang berbasis
kepada disiplin ilmu Manajemen dan Komunikasi / PR sebagai Konsentrasi.
Kurikulum mengacu kepada ’excellence theory’
yang ditemukan oleh Prof Grunig dkk yang memberikan gambaran futuristik
tentang pergeseran paradigma PR sebagai fungsi manajemen. Perpaduan
perkembangan Teori dan Praktek, yang diberikan oleh ’team
teaching’ yaitu guru besar/doktor dan praktisi senior untuk
studi kasus di setiap mata kuliah.
Di Indonesia, sudah mulai banyak perusahaan yang
berusaha memposisikan PR secara ideal. Astra, Unilever, Sampoerna,
Garuda Indonesia. Di kalangan perbankan nasional fungsi PR sudah
mulai bergerak. Sebaliknya di sektor
Pariwisata fungsi PR nya belum berjalan dan masih terkesan sebagai
’sales’ – PR sebagai alat pemasaran, bukan sebagai
fungsi strategi manajemen.
Perubahan paradigma PR ini hanya dapat diterapkan
dalam organisasi dengan (1) kultur organisasi yang terbuka (2) gaya
kepemimpinan yang partisipatif, yang (3) memberikan kesempatan untuk
perubahan struktur fungsi komunikasi secara managerial dan independent.
Secara mikro kunci sukses ini tergantung dari persepsi
management, kultur organisasi, gaya kepemimpinan serta sikap dan
prilaku pelaku komunikasi itu sendiri. Kata kuncinya: kemauan untuk
berubah. Sebab jika perusahaan / lembaga kita tidak berubah, pasar
akan diraih oleh pesaing yang menganggap bahwa perubahan adalah
salah satu strategi
untuk memenangkan persaingan. Karenanya, ’perubahan mindset’
inilah yang harus t e r u s disosialisasikan sehingga perubahan
bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dijalani. Mitos
bahwa PR haruslah wanita cantik,
public figure sekarang sudah mulai ditinggalkan – sosok PR
tidak lagi berada di depan publik, tetapi di belakang panggung –
sebab dia yang mengatur skenario untuk lembaganya sehingga dapat
diterima baik oleh publik,
bukan sibuk untuk penampilan dirinya sendiri. Sudahkah perubahan
paradigma PR ini difahami oleh para pemimpin di negara ini?
Semoga! *
< kembali ke index
>
|